Benarkah masalah persantetan ini tidak akan pernah bisa
menyentuh wilayah rasionalitas daya pikir manusia yang terbatas ini? Barangkali
untuk menjawab pertanyaan yang amat mendasar ini perlu dilahirkan cabang ilmu “santetologi”
semacam ilmu yang mempelajari seluk beluk santet dan hubungannya dengan gejala
alam lainnya, yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Menurut Permadi SH (disamping sebagai politkus, dia juga
dikenal sebagai seorang paranormal, santet itu merupakan sesuatu yang ilmiah.
Cara kerjanya mengikuti prinsip hukum dematerialisasi dan materialisasi, yakni
proses perubahan materi menjadi non materi, dan non materi menjadi materi.”
Materi
atau benda apapun seperti paku, jarum, pecahan kaca, ijuk atau rambut yang
biasa dipakai untuk menyantet orang, kata Permadi, tidak bisa masuk ke tubuh
seseorang tanpa melukai. “Supaya bisa masuk materi itu diubah dulu menjadi
energi yang tidak kelihatan. Kemudian dengan kekuatan supranatural yang
dipunyai si dukun, energi tersebut dikirim menuju sasaran santet. Kekuatan
supranatural itu sendiri bisa berupa tenaga dalam, kekuatan bathin sang
paranormal atau bisa juga kemampuan sang paranormal untuk meminta bantuan
makhluk halus. Kalau sudah berupa energi, logikanya bisa menembus segala macam
benda seperti tembok, kayu, termasuk tubuh manusia. Setelah mengenai
sasarannya, energi tersebut akan berubah menjadi materi kembali. Benda-benda itulah
yang akan menganiaya atau menghilangkan nyawa seseorang dalam hal ini sasaran santet”
Teori
dematerialisasi dan meterialisasi ini, kata Permadi, yaitu suatu istilah yang disimpulkan dari
fakta-fakta yang ada. “Pada kenyataannya materi yang akan digunakan untuk
menyantet itu dilenyapkan (dematerialisasi/. proses perubahan materi yang terlihat
menjadi energi yang tidak terlihat”
Lain lagi
menurut, Lukman Handoyo, seorang pastor berkebangsaan Belanda yang bertugas di
Purworejo (Jawa Tengah), dan juga menekuni dunia supranatural lewat caranya
sendiri, menyatakan, “Proses santet, itu bisa dilogikakan sebagai proses elektrodinamika.
Bukan kekuatan setan. Itu ilmiah, “ katanya. Jadi,
mengikuti pemahaman Romo Lukman, energi itu barangkali berupa energi listrik. Beberapa
manusia tertentu, katanya, mempunyai kemampuan mengubah materi menjadi energi,
dan dengan kemampuan tertentu pula energi itu dikirimkan ke tubuh korban lewat
proses elektrodinamika. Karena pada hakekatnya tubuh manusia mengandung
muatan-muatan listrik, korban sasaran santet akan tidak kuat menahan kiriman
energi yang mengenai tubuhnya. Sehingga korban akan menjadi sakit.
Berkaitan
dengan energi hasil perubahan materi itu pula, Romo Lukman mengambil contoh bom
atom yang merupakan kumpulan inti atom. “Kalau diledakkan , bom atom akan
berubah menjadi energi yang akan menyebar ke segala penjuru dengan berbagai
akibat termasuk berupa penyakit yang di luar dugaan manusia.” Santet, katanya,
itu juga kekuatan energi yang digerakkan oleh dukun lewat kemampuan
supranatural.
Karena
yang masuk ke dalam tubuh korban santet itu berupa energi, “Makanya jika di
rontgen tidak dapat kelihatan. Tetapi
dengan peralatan rontgen tertentu benda yang ada di dalam tubuh korban bisa dideteksi.”
Konon menurut pastor itu, alat yang dimaksud sampai saat ini hanya ada satu,
yakni di laboratorium sebuah rumah sakit di Jakarta. Alat tersebut, katanya,
pernah dicoba oleh pasiennya yang terkena santet, dan benda berupa jarum dan
silet tampak jelas di foto rontgen. Tapi sebelumnya pasien diberi minuman
berupa ramuan obat bikinan Romo Lukman sendiri, yang fungsinya untuk mengubah
energi kembali menjadi materi. Sehingga
kalau difoto melalui rontgen akan menjadi jelas.